Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Nelayan adalah orang/individu yang aktif dalam melakukan penangkapan ikan dan binatang air lainnya.Tingkat kesejahteraan nelayan sangat ditentukan oleh hasil tangkapannya.Banyaknya tangkapan tercermin juga besarnya pendapatan yang diterima oleh nelayan yang nantinya sebagian besar digunakan untuk konsumsi keluarga.Dengan demikian tingkat pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga sangat ditentukan oleh pendapatan yang diterimanya.

                  Para nelayan melakukan pekerjaan ini dengan tujuan memperoleh pendapatan untuk melangsungkan kehidupannya.Sedangkan dalam pelaksanaannya dibutuhkan beberapa perlengkapan dan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor dalam guna mendukung keberhasilan kegiatannya.Menurut Salim (1999) faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan meliputi faktor sosial dan ekonomi yang terdiri dari modal,jumlah perahu,pengalaman melaut,jarak tempuh melaut,jumlah tenaga kerjaa.Dengan demikian pendapatan nelayan berdasarkan besar kecilnya volume tangkapan,masih terdapat beberapa faktor yang lainnya yang ikut menentukan keberhasilan nelayan yaitu faktor sosial dan ekonomi selain tersebut diatas.

Wilayah Kabupaten bangkalan memiliki potensi perikanan dan kelautan yang cukup besar.Dilihat dari topografi, maka daerah Kabupaten Bangkalan berada pada ketinggian 2 – 100 m di atas permukaan air laut. Wilayah yang terketak di pesisir pantai, seperti Kecamatan Sepulu, Bangkalan, Socah, Kamal, Modung,Kwanyar, Arosbaya, Klampis, Tanjung Bumi, Labang dan Kec. Burneh. Sedangkan wilayah yang terletak di bagian utara mempunyai ketinggian antara 19 – 100 m di atas permukaan air laut.Diantaranya adalah kecamatan Tanjung Bumi.Kecamatan Tanjung Bumi merupakan kecamatan penghasil ikan terbesar di kabupaten bangkalan.Wilayah kelautan yang demikian luas, sudah tentu akan dapat memproduksi ikan laut (tangkap) yang cenderung meningkat.Ditambah lagi produksi perikanan darat yang pada umumnya dilakukan melalui budidaya.Hal ini dapat dilihat pada tabel 1.1 dibawah ini :

 

Tabel 1.1 Jumlah Produksi Perikanan Wilayah Pesisir Kab. Bangkalan

 

No

 

   Kecamatan

Jumlah Produksi Perikanan ( Ton )

2006

2007

2008

2009

2010

2011

1

Kamal

279,1

297,3

307

319,5

329,8

335,2

2

Labang

619,3 

630,2

634

638,8

647

652,3

3

Kwanyar

3188,7

3198,3

3219,2

3278,9

3336,7

3345,8

4

Modung

12,6 

14,1

14

13,5

15,7

16,8

5

Blega

305,1

319,3

313,5

313,5

321,8

347,2

6

Socah

1995,1

1931,6

1983,3

1993,7

2000,9

2013,1

7

Bangkalan

3135,2

3157,9

3171,7

3242,4

3297,4

3342

8

Arosbaya

2847,2

2871,7

2843,9

2892,6

2901,9

3251,2

9

Tanjung Bumi

5484,97 

5523

5552,3

5564,6

5657,4

6021,3

10

Sepulu

2751,8 

2979

2972,8

3044,6

3122,1

3264,3

11

Klampis

3760,5

3774,1

3786,4

3811,5

3899,1

4011,5

              Jumlah

24316,1 

24760

24798,1

25113,6

25529,8

26600,7

 

Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bangkalan tahun 2006-2011

 

            Berdasarkan tabel 1.1 tersebut diatas menunjukkan bahwa produksi perikanan di kabupaten bangkalan tiap tahun relatif meningkat termasuk di kecamatan Tanjung Bumi.Pada tabel tersebut juga ditunjukkan bahwa Kecamatan Tanjung Bumi merupakan Kecamatan Penghasil Ikan terbesar diantara 10 kecamatan lainnya.Karena Produksi perikanan di kabupaten bangkalan selalu naik maka hal ini akan berpengaruh terhadap PDRB Kabupaten Bangkalan mengingat bahwa sektor perikanan termasuk salah satu sub sektor dari PDRB Kabupaten Bangkalan.

Kontribusi sub sektor perikanan terhadap PDRB Kabupaten Bangkalan cenderung naik seiring dengan bertambahnya jumlah produksi.Seperti yang ditunjukkan oleh tabel 1.2 tentang Kontribusi Sub sektor Perikanan terhadap PDRB tahun 2005-2010 dibawah ini .

 

Tabel 1.2. Kontribusi Sub Sektor Perikanan Terhadap PDRB Tahun 2005 – 2009 Kabupaten Bangkalan Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2000

Tahun

Jumlah (Rp)

Kontribusi terhadap PDRB (%)

2006

63.930,25

2,37

2007

65.688,33

2,39

2008

69.286,89

2,41

2009

70.012,50

2,43

2010

72.299,77

2,45

                           

                            Sumber : Kabupaten Bangkalan dalam angka, 2010

           

Berdasarkan Tabel 1.1, menunjukkan adanya kecenderungan meningkat  kontribusi relatif sub sektor perikanan terhadap PDRB Kabupaten Bangkalan.Kemudian dengan memperhatikan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bangkalan menunjukkan bahwa produksi perikanan tangkap (penangkapan ikan laut + penangkapan perairan umum ) di kecamatan Tanjung Bumi tahun 2009 sebesar  5564,6 ton dan naik menjadi 5657,4 ton pada tahun 2010. Secara total produksi perikanan tangkap di Kecamatan Tanjung Bumi  masih tetap dominant dibandingkan dengan produksi perikanan budi daya. Untuk lebih detailnya dapat dilihat pada Tabel 1.3, sebagai berikut :

Tabel 1.2. Perkembangan Produksi Perikanan dan Kelautan Kecamatan Tanjung   Bumi Tahun 2009 – 2010

  

   No

 

Sumber Produksi

                   Tahun              

2009 (ton)

2010 (ton)

1

Perikanan Tangkap

2973,4

3042,3

2

Perikanan Budidaya

2591,2

2615,1

                 Total

5564,6

5657,4

  Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bangkalan, 2010

 

      Dilihat dari produksi perikanan tangkap di Kecamatan Tanjung Bumi  setiap tahun mengalami peningkatan yang berarti tingkat pendapatan nelayan tentu lebih baik yang tercermin dari kehidupan nelayan itu sendiri, karena produksi berhubungan dengan pendapatan, apabila produksi meningkat tentunya pendapatan juga akan meningkat, namun pada kenyataan yang dilihat dari struktur sosial kehidupan masyarakat nelayan di Kecamatan Tanjung Bumi  belum mencerminkan tingkat pendapatan nelayan itu lebih baik.  Sehingga dari uraian sebelumnya Penelitian ini ingin mengamati dan menganalisis lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan yaitu modal tenaga kerja, tenaga kerja, waktu melaut, pengalaman dan jarak tempuh melaut.

     

1.2  Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimana Faktor-Faktor yang mempegaruhi pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka ?
    1. Bagaimana pengaruh modal tenaga kerja terhadap pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka ?
    2. Bagaimana pengaruh tenaga kerja terhadap pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka ?
    3. Bagaimana pengaruh jarak tempuh melaut terhadap pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka ?
    4. Bagaimana pengaruh pengalaman terhadap tingkat pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka ?

 

1.3  Tujuan Penelitian

Tujuan pada penelitian ini adalah :

Untuk mengetahui Faktor-Faktor yang mempegaruhi pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka.

 

1.4  Manfaat Penelitian

1.4.1        Manfaat Praktis : Hasil penelitian ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah dan pihak lain dalam  upaya mencari pendekatan dan setrategi terbaik dalam upaya meningkatkan pendapatan nelayan.

1.4.2        Manfaat Teoritis : Untuk menambah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di desa banyu sangka.

 

BAB II

         KAJIAN PUSTAKA

2.1 Penelitian Terdahulu

      Dalam penelitian ini peneliti juga menyertakan beberapa penelitian terdahulu diantaranya adalah sebagai berikut :

            Zulfikar (2002), hasil penelitiannya tentang analisis sistem bagi hasil terhadap pendapatan buruh nelayan di Kabupaten Deli Serdang, bahwa hasil analisis dapat diketahui untuk uji beda rata-rata nelayan melaut rawai dan melaut pancing diperoleh kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara   pendapatan melaut merawai dan pancing. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan ditinjau dari modal pekerja yaitu antara melaut pancing dan jaring. 

            Sasmita (2006), dalam penelitian tentang analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha nelayan di Kabupaten Asahan, menyakan bahwa variabel independent modal kerja, jumlah tenaga kerja, waktu melaut dan pengalaman yang dapat menerangkan variansi variabel dependent (pendapatan usaha nelayan) sebesar 60,7%. Dari variabel independent yang diteliti modal kerja dan melaut signifikan pada tingkat signifikan 5% sedangkan jumlah tenaga kerja signifikan pada tingkat signifikansi 10%

2.2 Teori

Teori yang akan disampaikan dalam bab ini adalah teori berdasarkan konsep yang sesuai dengan objek yang telah ada.

2.2.1        Pendekatan Teori

2.2.1.1 Teori Produksi

 Teori produksi yang sederhana menggambarkan tentang hubungan di antara tingkat produksi suatu barang dengan jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk menghasilkan berbagai tingkat produksi barang tersebut. Dalam analisis tersebut dimisalkan bahwa faktor-faktor produksi lainnya adalah tetap jumlahnya, yaitu modal dan tanah jumlahnya dianggap tidak mengalami perubahan. Juga teknologi dianggap tidak mengalami perubahan. Satu-satunya faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya adalah tenaga kerja (Sukirno, 2004).

Produksi merupakan hasil akhir dan proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Lebih lanjut Putong (2002) produksi atau memproduksi menambah kegunaun (nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatu barang akan bertambah bila memberikan manfaat baru atau lebih dari bentuk semula. Lebih spesifik lagi produksi adalah kegiatan perusahaan dengan mengkombinasikan berbagai input untuk menghasilkan output dengan biaya yang minimum (Joesron dan Fathorrozi, 2003)

Produksi merupakan konsep arus. Apa yang dimaksud dengan konsep arus (flow concept) di sini adalah produksi merupakan kegiatan yang diukur sebagai tingkat-tingkat output per unit periode/waktu. Sedangkan outputnya sendiri senantiasa diasumsikan konstan kualitasnya. Jadi bila kita berbicara mengenai peningkatan produksi, itu berarti peningkatan tingkat output dengan mengasumsikan faktor-faktor lain yang sekiranya berpengaruh tidak berubah sama sekali (konstan). Pemakaian sumber daya dalam suatu proses produksi juga diukur sebagai arus. Modal dihitung sebagai sediaan jasa, katakanlah mesin, per jam; jadi bukan dihitung sebagai jumlah mesinnya secara fisik. (Miller dan Miners, 1999).

Hubungan antara Produksi Total (TP), produksi rata-rata (AP) dan Produk Marginal (MP) dalam jangka pendek untuk satu input (input lain dianggap konstan) dapat dilihat pada gambar berikut :

 

( MASIH DALAM PROSES PENGGAMBARAN )

2.2.1.2  Fungsi Produksi

Menurut Joesron dan Suhartati (2003) produksi merupakan hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input. Dengan pengertian ini dapat dipahami bahwa kegiatan produksi adalah mengkombinasikan berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output. Hubungan teknis antara input dan output tersebut dalam bentuk persamaan, tabel atau grafik merupakan fungsi produksi. Jadi, fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi tertentu.

Masing-masing faktor mempunyai fungsi yang berbeda dan saling terkait satu sama lain. Kalau salah satu faktor tidak tersedia maka proses produksi tidak akan berjalan , terutama tiga faktor yaitu tanah, modal dan manajemen saja, tentu proses produksi atau usaha tani tidak akan jalan karena tidak ada tenaga kerja. Tanpa tenaga kerja, apa yang dapat dilakukan, begitu juga dengan faktor lainnya seperti modal.

Hubungan antara jumlah output (Q) dengan jumlah input yang digunakan dalam proses produksi (X1, X2, X3, …, Xn) secara matematika dapat dituliskan sebagai berikut :

Q = f(X1, X2, X3, … , Xn)

dimana :

Q = output

Xi = input  

Input produksi sangat banyak dan yang perlu dicatat disini bahwa input produksi hanyalah input yang tidak mengalami proses nilai tambah. Jadi didalam fungsi produksi diatas tidak bisa dimasukkan material sebab dalam fungsi produksi ada substitusi antara faktor produksi. Hubungan antara input dan output ini dalam dunia nyata sangat sering kita jumpai. Hubungan antara input dan output dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, sekalipun ada disekitar kita, belum banyak yang memahami berbagai model yang dapat diterapkan untuk mempelajari pola hubungan antara input dan output.

Fungsi produksi Cobb-Douglas dapat juga dipakai untuk menganalisis produktivitas tenaga kerja. Fungsi produksi dapat ditunjukkan pada persamaan berikut :

Q = f(K, L)…………………………………………………………………………………..(2.1)

Q = A Kα Lβ……………………………………………………………………………….. (2.2)

dimana :

Q = output

A = konstanta

K = input kapital

L = input tenaga kerja

α = koefisien kapital

β = koefisien tenaga kerja

Yang ditransformasikan ke dalam bentuk ekonometrika :

Log Q = Log A + α Log K + β Log L + μ

 

2.2.2 Konsep Nelayan

   Nelayan adalah orang yang hidup dari mata pencaharian hasil laut. Di Indonesia para nelayan biasanya bermukim di daerah pinggir pantai atau pesisir laut. Komunitas nelayan adalah kelompok orang yang bermata pencaharian hasil laut dan tinggal didesa-desa pantai atau pesisir (Sastrawidjaya, 2002). Ciri komunitas nelayan dapat dilihat dari berbagai segi, sebagai berikut :

a.       Dari segi mata pencaharian, nelayan adalah mereka yang segala aktivitasnya berkaitan dengan lingkungan laut dan pesisir, atau mereka yang menjadikan perikanan sebagai mata pencaharian mereka.

b.      Dari segi cara hidup, komunitas nelayan adalah komunitas gotong royong. Kebutuhan gotong royong dan tolong menolong terasa sangat penting pada saat untuk mengatasi keadaan yang menuntut pengeluaran biaya besar dan pengerahan tenaga yang banyak, seperti saat berlayar, membangun rumah atau tanggul penahan gelombang di sekitar desa.

Dari segi ketrampilan, meskipun pekerjaan nelayan adalah pekerjaan berat namun pada umumnya mereka hanya memiliki ketrampilan sederhana. Kebanyakan mereka bekerja sebagai nelayan adalah profesi yang di turunkan oleh orang tua, bukan yang dipelajari secara professional. Dari bangunan struktur sosial, komunitas nelayan terdiri atas komunitas yang heterogen dan homogen. Masyarakat yang heterogen adalah mereka yang bermukim di desa-desa yang mudah dijangkau secara transportasi darat, sedangkan komunitas yang homogen terdapat di desa-desa nelayan terpencil biasanya menggunakan alat-alat tangkap ikan yang sederhana, sehingga produktivitas kecil. Sementara itu kesulitan transportasi angkutan hasil ke pasar juga akan menjadi penyebab rendahnya harga hasil laut di daerah mereka. (Sastrawidjaya, 2002)

2.2.3 Konsep Pendapatan

Pendapatan nelayan adalah selisih antara penerimaan (TR) dan semua biaya (TC). Jadi Pd = TR – TC. Penerimaan nelayan (TR) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh (Y) dengan harga jual (Py). Biaya nelayan biasanya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variable cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC), maka TC = FC + VC (Soekartawi, 2002).

Menurut Sukirno (2006) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan ataupun tahunan. Beberapa klasifikasi pendapatan antara lain:

  1. Pendapatan pribadi. yaitu: semua jenis pndapatan yang diperoleh tanpa memberikan suatu kegiatan apapun yang diterima penduduk suatu negara.
  2. Pendapatan disposibel, yaitu; pcndapatan pribadi dikurangi pajak yang harus dibayarkan oleh para penerima pendapatan, sisa pendapatan yang siap dibelanjakan inilah yang dinamakan pendapatan disposibel.
  3. Pendapatan nasional, yaitu; nilai seluruh barang-barang jadi dan jasa-jasa yang diproduksikan oleh suatu negara dalam satu tahun.

Menurut Sobri (1999) pendapatan disposibel adalah suatu jenis penghasilan yang diperoleh seseorang yang siap untuk dibelanjakan atau dikonsumsikan. Besarnya pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang diterima dikurangi dengan pajak langsung (pajak perseorangan) seperti pajak penghasilan.

Menurut teori Milton Friedman bahwa pendapatan masyarakat dapat digolongkan menjadi dua, yaitu pendapatan permanen (permanent income) dan pendapatan sementara (transitory income). Pendapatan permanen dapat diartikan:

1. Pendapatan yang selalu diterima pada periode tertentu dan dapat diperkirakan sebelumnya, sebagai contoh adalah pendapatan dan upah, gaji.

2. Pendapatan yang diperoleh dan hasil semua faktor yang menentukan kekayaan seseorang.

2.3 Nelayan dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan

Masyarakat nelayan yang sampai saat ini masih merupakan tema yang sangat menarik untuk didiskusikan. Membicarakan nelayan hampir pasti isu yang selalu muncul adalah masyarakat yang marjinal, miskin dan menjadi sasaran eksploitasi penguasa baik secara ekonomi maupun secara politik.

Nelayan orang yang melakukan penangkapan (budidaya) di laut dan di tempat yang masih dipengaruhi pasang surut (Tarigan, 2000). Jadi bila ada yang menangkap ikan di tempat budidaya ikan seperti tambak, kolam ikan, danau, sungai tidak termasuk nelayan. Selanjutnya, menurut Tarigan (2000), berdasarkan pendapatnya, nelayan dapat dibagi menjadi :

a.       Nelayan tetap atau nelayan penuh, yakni nelayan yang pendapatan seluruhnya berasal dari perikanan.

b.      Nelayan sambil utama, yakni nelayan yang sebagian besar pendapatannya berasal dari perikanan.

c.       Nelayan sambilan tambahan, yakni nelayan yang sebagian kecil pendapatannya berasal dari perikanan.

d.      Nelayan musiman, yakni orang yang dalam musim-musim tertentu saja aktif sebagai nelayan.

Rendahnya kualitas sumber daya manusia masyarakat nelayan yang terefleksi dalam bentuk kemiskinan sangat erat kaitannya dengan faktor internal dan eksternal masyarakat. Faktor internal misalnya pertumbuhan penduduk yang cepat, kurang berani mengambil resiko, cepat puas dan kebiasaan lain yang tidak mengandung modernisasi. Selain itu kelemahan modal usaha dari nelayan sangat dipengaruhi oleh pola piker nelayan itu sendiri. Faktor eksternal yang mengakibatkan kemiskinan rumah tangga nelayan lapisan bawah antara lain proses produksi didominasi oleh toke pemilik perahu atau modal dan sifat pemasaran produksi hanya dikuasai kelompok dalam bentuk pasar monopsoni (Kusnadi, 2003).

2.3.1 Modal dan Biaya Produksi

Modal ada dua macam, yaitu modal tetap dan modal bergerak. Modal tetap diterjemahkan menjadi biaya produksi melalui deprecition cost dan bunga modal. Modal bergerak langsung menjadi biaya produksi dengan besarnya biaya itu sama denga nilai modal yang bergerak.

Setiap produksi sub sektor perikanan dipengaruhi oleh faktor produksi modal kerja. Makin tinggi modal kerja per unit usaha yang digunakan maka diharapkan produksi ikan akan lebih baik, usaha tersebut dinamakan padat modal atau makin intensif.

Sebagian dari modal yang dimiliki oleh nelayan digunakan sebagai biaya produksi atau biaya operasi, yaitu penyediaan input produksi (sarana produksi), biaya operasi dan biaya-biaya lainnya dalam suatu usaha kegiatan nelayan. Biaya produksi atau biaya operasi nelayan biasanya diperoleh dari kelompok nelayan kaya ataupun pemiliki modal (toke), karena adanya hubungan pinjam meminjam uang sebagai modal kerja dimana pada musim panen, hasil tangkapan (produksi) ikan nelayan digunakan untuk membayar seluruh pinjaman utang, dan tingkat harga ikan biasanya ditentukan oleh pemilik modal.

Total biaya diklasifikasikan menjadi dua yaitu biaya tetap (fixed cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap (FC) adalah biaya yang relatif tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun hasil tangkapan ikan/ produksi yang diperoleh banyak atau sedikit. Biaya variabel (VC) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh hasil tangkapan ikan/ produksi yang diperoleh, contohnya biaya untuk tenaga kerja. Total biaya (TC) adalah jumlah dari biaya tetap (FC) dan biaya variabel (VC), maka TC = FC + VC (Rahardja, Manurung, 2006).

2.3.2 Faktor Tenaga Kerja

Berbicara masalah tenaga kerja di Indonesia dan juga sebagian besar negara-negara berkembang termasuk negara maju pada umumnya merupakan tenaga kerja yang dicurahkan untuk usaha nelayan atau usaha keluarga. Keadaan ini berkembang dengan semakin meningkatnya kebutuhan manusia dan semakin majunya suatu kegiatan usaha nelayan karena semakin maju teknologi yang digunakan dalam operasi penangkapan ikan, sehingga dibutuhkan tenaga kerja dari luar keluarga yang khusus dibayar setiap sekali turun melaut sesuai dengan produksi yang dihasilkan.

Setiap usaha kegiatan nelayan yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja, banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan kapasitas kapal motor yang dioperasikan sehingga akan mengurangi biaya melaut (lebih efisien) yang diharapkan pendapatan tenaga kerja akan lebih meningkat, karena tambahan tenaga tersebut profesional (Masyhuri, 1999). Oleh karena itu dalam analisa ketenagakerjaan usaha nelayan, penggunaan tenaga kerja dinyatakan oleh besarnya curahan kerja. Curahan tenaga kerja yang dipakai adalah besarnya tenaga kerja efektif yang dipakai.

 

2.3.3 Faktor Jarak Tempuh Melaut

Setidaknya ada tiga pola penangkapan ikan yang lazim dilakukan oleh nelayan. Pertama adalah pola penangkapan lebih dari satu hari. Penangkapan ikan seperti ini merupakan penangkapan ikan lepas pantai. Jauh dekatnya daerah tangkapan dan besar kecilnya perahu yang digunakan menentukan lamanya melaut. Kedua adalah pola penangkapan ikan satu hari. Biasanya nelayan berangkat melaut sekitar 14.00 mendarat kembali sekitar jam 09.00 hari berikutnya. Penangkapan ikan seperti ini biasanya dikelompokkan juga sebagai penangkapan ikan lepas pantai. Ketiga pola penangkapan ikan tengah hari. Penangkapan ikan seperti ini merupakan penangkapan ikan dekat pantai. Umumnya mereka berangkat sekitar jam 03.00 dini hari atau setelah subuh, dan kembali mendarat pagi harinya sekitar jam 09.00. Pada umumnya penangkapan ikan lepas pantai yang dilakukan dalam waktu yang lebih lama dan lebih jauh dari daerah sasaran tangkapan ikan mempunyai lebih banyak kemungkinan memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih banyak dan tentu memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan dengan penangkapan ikan dekat pantai (Masyhuri, 1999).

 

2.3.4 Faktor Pengalaman

Faktor pengalaman, faktor ini secara teoritis dalam buku, tidak ada yang membahas bahwa pengalaman merupakan fungsi dari pendapatan atau keuntungan. Namun, dalam aktivitas nelayan dengan semakin berpengalamannya, nelayan yang makin berpengalaman dalam menangkap ikan bisa meningkatan pendapatan atau keuntungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

2.4  Kerangka Pemikiran

                                                           

MODAL KERJA

JARAK TEMPUH MELAUT

PENGALAMAN

TENAGA KERJA

PENDAPATAN NELAYAN

Identifikasi faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Kerangka Pemikiran

Dalam kerangka pemikiran perlu dijelaskan secara teoritis antara variabel bebas dan variabel terikat. Berdasar pada uraian sebelumnya maka kerangka pemikiran peneliti dalam penelitian ini adalah pendapatan nelayan (sebagai variabel terikat) yang dipengaruhi oleh modal kerja, tenaga kerja, waktu melaut, pengalaman dan jarak tempuh melaut (sebagai variabel bebas).

            Variabel terikat (dependen variable) adalah pendapatan nelayan yang menggunakan sampan dayung (perahu) biasa disebut nelayan tradisonal, perahu motor dan kapal motor

Variabel bebas (independent variable) adalah modal kerja, tenaga kerja, lamanya waktu melaut, pengalaman dan jarak tempuh melaut.

            Faktor modal kerja masuk kedalam penelitian ini karena secara teoritis modal kerja mempengaruhi pendapatan usaha. Peningkatan dalam modal kerja akan mempengaruhi peningkatan jumlah tangkapan ikan/ produksi sehingga akan meningkatkan pendapatan. Modal kerja adalah modal yang digunakan nelayan untuk melaut, misalnya: bahan bakar minyak, makanan, rokok, upah tenaga kerja, peralatan menangkap ikan (umpan).

Faktor tenaga kerja masuk dalam penelitian ini karena secara teoritis tenaga kerja akan mempengaruhi pendapatan usaha. Tenaga kerja yang dimaksud disini adalah banyaknya orang yang pergi melaut dalam 1 perahu atau kapal.

Pada umumnya penangkapan ikan lepas pantai yang dilakukan dalam jarak yang lebih jauh dari daerah sasaran tangkapan ikan mempunyai lebih banyak kemungkinan memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih banyak dan tentu memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan dengan penangkapan ikan dekat pantai.

Faktor pengalaman, faktor ini secara teoritis dalam buku, tidak ada yang membahas pengalaman merupakan fungsi dari pendapatan atau keuntungan. Namun, dalam prakteknya, nelayan yang semakin berpengalaman dalam melaut bisa meningkatan pendapatannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                      

                                                       BAB III

METODE PENELITIAN

3.1  Pendekatan Penelitian

Metode adalah aspek yang sangat penting dan besar pengaruhnya terhadap berhasil tidaknya suatu penelitian, terutama untuk mengumpulkan data. Sebab data yang diperoleh dalam suatu penelitian merupakan gambaran dari obyek penelitian. Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka,melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya. Sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam,serta  membuat  gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat pada kondisi nelayan di Desa Banyusangka dengan rinci dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokkan antara realita empirik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di Desa Banyusangka dengan teori-teori yang berlaku dengan menggunakkan metode diskriptif.

3.2  Fokus Penelitian

Hakekatnyapenelitian kuantitatif tidak dimulai dengan sesuatu yang kosong, tetapi berdasarkan persepsi seseorang terhadap adanya masalah. Masaalah adalah lebih dari sekedar pertanyaan, dan jelas berbeda dengan tujuan. Masalah adalah suatu keadaan yang bersumber dari hubunganantar dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang menimbulkan tanda-tanda yang dengan sendirinya memerlukan upanya untuk mencari sesuatu jawaban (Guba, 1978:44; Lincoln dan Guba, 1985:218; dan Guba Lincoln 1981:88). Faktor yang berhubungan tersebut dalam hal ini mungkin berupa konsep, data empiris, pengalaman, atau unsur lainnya.

Ruang lingkup penelitian ini mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di Desa Banyu Sangka Kecamatan Tanjung Bumi, khususnya pengaruh modal kerja, jumlah tenaga kerja, lamanya waktu melaut, pengalaman dan jarak tempuh melaut.

Untuk nelayan yang akan menjadi obyek penelitian ini adalah nelayan yang menggunakan sampan dayung atau biasa disebut nelayan tradisional, nelayan yang menggunakan perahu motor atau kapal motor. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tanjung Bumi khususnya di desa Banyu Sangka.

 

3.3  Penentuan Informan

Adapun metode yang digunakan dalam penentuan informan pada penelitian ini adalah metode purposive sampling (metode penentuan sample yang dilakukan secara sengaja untuk merinci kekhususan dari sejumlah yang diteliti). Alasan memilih metode ini karena peneliti ingin menggali informasi yang menjadi dasar dari rumusan masalah dan teori yang muncul.Tujuan dari metode ini adalah untuk mempermudah penelitian ini dalam memperoleh variasi sebanyak-banyaknya dari satuan kelopmpok atau populasi yang sudah ditentukan, sehingga dari satuan tersebut dapat diperluas dengan informasi yang telah diperoleh dan dapat dipertentangkan atau didisi adanya kesenjangan informasi yang ditemui.

Metode ini juga sangat bertujuan  untuk menentukan jumlah sample dalam pertimbangan-pertimbangan informasi yang diperlukan sehingga sangat meminimkan untuk tidak terjadi pengulangan dalam pencarian informasi. Maksud disini yaitu jika dalam perluasan informasi tidak ada lagi informasi yang dapat dijaring, maka sample pun sudah dapat diakhiri. Jadi, kuncinya disini ialah jika sudah terjadi pengulangan informasi, maka penarikan sample sudah harus dihentikan.

Adapun Informan utama dalam penelitian ini adalah kepala asosiasi nelayan sedangkan  informan lainnya adalah sejumlah masyarakat dilokasi penelitian yang terkait dan berinteraksi dengan informasi utama, seperti keluarga nelayan, kepala desa, dan nelayan yang sudah lama di desa banyu sangka kecamatan  Tanjung Bumi  kabupaten Bangkala. Hal ini disebabkan karena untuk memfokuskan penelitian sehingga dapat memberikan keterangan yang jelas dari rumusan masalah dan teori yang digunakan.

3.4 Jenis dan Sumber Data

Menurut S. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian. Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan.Data primer berupa data langsung yang dikumpulkan melalui wawancara dengan responden dan menggunakan alat yaitu daftar pertanyaan (kuesioner) dan observasi yaitu mengamati secara langsung hal-hal yang berhubungan dengan penelitian misalnya perlengkapan perahu/kapal motor yang dipergunakan nelayan dalam menangkap ikan, kehidupan sosial masyarakat nelayan dan juga perilaku nelayan itu sendiri.

Data sekunder adalah data-data yang didapat dari sumber bacaan dan berbagai macam sumber lainnya yang terdiri dari surat-surat pribadi, buku harian, notula rapat perkumpulan, sampai dokumen-dokumen resmi dari berbagai instansi pemerintah. Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, publikasi dari berbagai organisasi, lampiran-lampiran dari badan-badan resmi seperti kementrian-kementrian, hasil-hasil studi, tesis, hasil survey, studi histories, dan sebagainya. Peneliti menggunakan data sekunder ini untuk memperkuat penemuan dan melengkapi informasi yang telah dikumpulkan melalui wawancara lansung dengan Kepala Nelayan maupun kepala Desa Banyusangka.Data Skunder dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas perikanan dan Kelautan Kabupaten Bangkalan dan dinas-dinas terkait lainnya.

3.5  Analisis Data

     Menurut  (Bogdan & Biklen 1982) Analisis Data Kualitatif, adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasi data,  memiliah-milahnya menjadi satuan yang dapat di kelola, mensintesiskannya, menentukan dan mencari pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceriterakan kepada orang lain.

        Adapun mekanisme berjalannya  sebagai berikut:

  1. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri,
  2. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensintesiskan, membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya,
  3. Berfikir, dengan jalan membuat agar kategori data itu mempunyai makna, mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat temun-temuan.

3.5.1 Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah Focus group discussion (FGD) adalah sebuah teknik pengumpulan data yang umumnya diakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari seatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti (Bungin, 2007).

Lebih jauh lagi teknik ini digunakan untuk menarik kesimpulan terhadap makna-makna intersubyektif yang sulit dimaknakan sendiri oleh peneliti karena dihalangi oleh ketidak tahuan peneliti terhadap makna sesungguhnya dari orang-orang di sekitar sebuah fenomena yang sedang diteliti serta sejauh mungkin peneliti menghindari diri dari dorongan subyektifitas peneliti tersebut.

Dalam penelitian ini akan melakukan dua tahap diskusi, yaitu; Pertama, tahap diskusi dengan melibatkan berbagai informan anggota FGD yang ditentukan berdasarkan kemampuan dan kompetensi formal serta kompetensi penguasaan fokus masalah FGD; Kedua, diskusi dengan para ahli, melalui langkah-langkah analisis sebagai berikut:

-  Melakukan coding terhadap penilaian jawaban beberapa actor tentang kesamaan pandangan dan pendapat

-  Menentukan kesamaan pandangan dan pendapat berdasarkan konteks yang berbeda

-  Menentukan persamaan istilah yang digunakan, termasuk perbedaan pendapat terhadap istilah yang sama tadi.

-  Melakukan klasifikasi dan kategorisasi terhadap pandangan dan pendapat peserta FGD berdasarkan alur diskusi

-  Mencari hubungan diantara masing-masing temuan jawaban yang ada untuk menentukan bentuk bangunan hasil diskusi atau sikap dan pendapat kelompok terhadap masalah yang didiskusikan (fokus diskusi)

-  Menyiapkan draft laporan FGD untuk didiskusikan pada kelompok yang lebih besar untuk mendapat masukan lebih luas, sebelum diseminarkan dalam forum yang lebih luas.

Tahap analisis akhir, pada tahap ini peneliti tidak saja dapat menemukan jawaban atas persoalan saja namun juga mengintraksikan hubungan-hubungan tersebut pada tingkat yang lebih substansial, menyangkut diantaranya dengan kebijakan perlindungan yang telah ada dan beberapa nilai terhadap kategorisasi jawaban para informan, bahkan nantinya sampai pada tingkat mengkonstruksi pengetahuan baru, mendekonstruksi teori, dan merekonstruksi teori-teori baru.

 

3.5.1        Teknik Analisis data

Penelitian ini di desain berdasarkan pendekatan deskriptif  kualitatif, sehingga  strategi analisis datanya merupakan kumpulan secara umum akan penelitian yang dilakukan yang mana harus sesuai dengan sasaran penelitian.

Observasi umum yaitu suatu pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan oleh pengumpul data terhadap gejala/ peristiwa yang di selidiki pada objek penelitian. Yang bersifat tidak ada interaksi antara objek yang diamati dengan pengamat/ pengumpul data. Pada penelitian ini observasi umum yang diamati adalah kehidupan/ kegiatan sehari-hari para nelayan di Desa Banyusangka. Observasi terfokus adalah dengan melakukan pengamatan melalui interaksi antara objek yang diamati dengan pengamat/pengumpul data.Observasi terfokus pada penelitian ini adalah pendapatan nelayan.

3.6  Uji Keabsahan Hasil Penelitian

Penelitian kualitatif dapat diuji melalui tingkat kredibilitas dan mempunyai nilai generalisasi yang tinggi melalui keabsahan hasil penelitian, yang bisa diukur dari :

  1. Credibility

Merupakan validitas internal dengan melakukan pengujian dan pengecekan silang terhadap tingkat keterpercayaan data melalui pengamatan yang berulang, yang diperoleh lewat ketekunan, pengamatan terhadapmasalah-masalah yang diteliti.

Pengujian creadibility dilakukan melalui :

Uji Trianggulasi yaitu uji keabsahan dapat dilakukan dengan pendekatan triangulasi dengan kemungkinan melakukan terobosan metodologis terhadap masalah tertentu yang kemungkinan dapat dilakukan seperti apa yang dikemukakan. Salah satu cara paling penting dalam uji keabsahan hasil penelitian adalah dengan melakukan triangulasi peneliti, metode, teori, dan sumber data :

- Triangulasi kejujuran peneliti

Cara ini dilakukan untuk menguji kejujuran, subyektifitas, dan kemampuan merekam data oleh peneliti di lapangan. Karena bisa juga terjadi sadar atau tanpa sadar peneliti melakukan tindakan-tindakan yang merusak kejujurannya ketika pengumpulan data, atau terlalu melepaskan subyektivitasnya bahkan kadang tanpa kontrol, ia melakukan rekaman-rekaman yang salah terhadap data di lapangan. Melihat kemungkinan-keungknan ini, maka perlu dilakukan triangulasi terhadap peneliti, yaitu dengan meminta bantuan peneliti lain melakukan pengecekan langsung, wawancara ulang serta merekam data yang sama di lapangan. Hal ini adalah sama dengan proses verifikasi terhadap hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti. 

- Triangulasi dengan sumber data

Dilakukan dengan membandingkan dan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan cara yang berbeda dalam metode kualitatif yang dilakukan dengan; a) membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara dan dokumentasi data, b) membandingkan dengan apa yang dikatakan informan di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, c) membandingkan apa yang dikatakan para informan tentang obyek penelitian terhadap situasi, d) membandingkan keadaan dan perspektif informan dengan berbagai pendapat dan pandangan orang lain seperti rakyat biasa, orang yang berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada dan orang pemerintahan, e) membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

- Triangulasi dengan model

Triangulasi ini dilakukan untuk melakukan pengecekan terhadap metode pengumpulan data, apakah informasi yang didapat dengan metode interview sama dengan metode observasi, atau apakah hasil observasi sesuai dengan informasi yang diberikan ketika di-interview. Begitu pula teknik ini dilakukan untuk menguji sumber data, apakah sumber data ketika di-intervew dan diobservasi akan memberikan informasi yang sama atau berbeda. Apabila berbeda maka penelitia harus bisa menjelaskan perbedaan itu, tujuannya adalah untuk mencari kesamaan data dengan metode yang berbeda.

 - Triangulasi dengan teori

Upaya ini dapat dilakukan denagn pencarian cara lainnya untuk mengorganisasikan data yang barang kali mengarahkan pada upaya penemuan penelitian lainnya. Secara logika dilakukan dengan jalan memikirkan kemungkinan logis lainnya dan kemudian melihat apakah kemungkinan-kemungkinan itu dapat ditunjang oleh data lain dengan maksud untuk membandingkannya.

  1. Transferability

merupakan validitas eksternal yang diperoleh lewat uraian yang cermat, rinci atau mendalam dalam melihat kesamaan konteks antara pemberi dan penerima data 

  1. Dependability

Merupakan validitas data melalui pemeriksanaan yang cermat terhadap seluruh komponen dan proses penelitian dalam melihat apakah hasil data yang diperoleh sesuai dengan rancangan penelitian yang dibuat.

  1. Konfirmability

Merupakan validitas data melalui pemeriksaan yang cermat tentang kesesuaian semua data yang ada.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Deskripsi Wilayah Desa Banyusangka.

Desa Banyusangka merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Tanjung Bumi Kabupaten Bangkala dengan luas wilayah (MASIH DICARI) km2 (Hasil olahan dari profil Kecamatan Tanjung Bumi 2010) dan berpenduduk sebesar 3.499 jiwa dengan perkembangan antara 0.2 % sampai dengan 0.4 % pertahun.Sebagian besar pendidikan di desa ini adalah SMP meskipun setiap tahun sudah ada penduduk nya yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi,terutama yang berkenaan dengan kenelayanan.

Secara geografis Desa Banyusangka berada di pesisir pantai utara  7 KM sebelum sentra batik tulis Tanjung Bumi.Kondisi geografis wilayah menunjukkan bahwasannya wilayah Desa banyu sangka memiliki perbedaan dari sisi fisik,topografi dan geo sosial ekonomi. Kondisi tersebut juga mempengaruhi terhadap sebaran sumberdaya  wilayah yang ada.Selain itu desa Banyusangka adalah desa penghasil ikan terbesar di bangkalan hal ini didukung dengan fakta bahwa  mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan serta letak geografis yang sangat yang berada di pinggir pantai.

4.2    Hasil Penelitian

4.2.1        Karakteristik Nelayan Pada Obyek Penelitian

Wawancara mendalam telah dilakukan pada kedua orang subjek penelitian . Hal ini dimaksudkan untuk memperlihatkan secara lebih rinci bahwa semua informan dalam penelitian ini secara umum telah sesuai dengan rencana semula penelitian ini.

Seperti yang terlihat dibawah ini :

  1. Informan Pertama :

v  Nama                             :   H. Abdul Syukur,S.PdI

v  Usia                                :   43 Tahun

v  Pendidikan  Terakhir     :  Sarjana Pendidikan Islam

v  Pekerjaan                       :  Kepala Desa Banyusangka

  1. Informan Kedua :

v  Nama                              :   Mashudi

v  Usia                                :   36 Tahun

v  Pendidikan  Terakhir     :  SMK

v  Pekerjaan                        :  Ketua Nelayan di Pantai Banyusangka.

  1. Informan Ketiga

v  Nama                              : Siti Kiptieh (Istri Nelayan )

v  Usia                                : 32 Tahun

v  Pendidikan Terakhir       : SD

v  Pekerjaan                        : Penjual Nasi 

  1. Informan Ke Empat

v   

Sumber : Hasil Wawancara dengan Kepala Desa dan Nelayan di Desa Banyusangka.

            Karakteristik informan tersebut di atas adalah hasil wawancara mendalam. Wawancara mendalam tersebut menghasilkan gambaran karakteristik semua informan tersebut didukung oleh jawaban-jawaban yang mereka sampaikan, seperti wawancara dalam pertanyaan umum yang mencakup Pengetahuan mengenai Kondisi Nelayan di Desa tersebut.( Bapak, rata-rata para nelayan disini berusia berapa ya pak ?  ”Sebagian besar nelayan disini adalah berusia antara 35-44 tahun.Karena penduduk sini yang berusia 15-34 tahun masih enggan untuk menjadi nelayan mereka memilih bekerja ke luar daerah sehingga walaupun ada jumlahnya lebih sedikit dari pada yang berusia 35-44” (Informan 1) Masih Informan 1. ( Bagaimana dengan tingkat pendidikan para nelayan disini pak ? ) “Nelayan di desa ini paling banyak adalah lulusan SMP kemudian terbanyak kedua adalah lulusan SD,adapun yang lulusan SMA ataupun yang tidak sekolah jumlahnya relatif kecil sekitar 10 persenan lah” (Informan 1)

 

 

(Sejak kapan Kamu mengetahui tentang seks?) “sejak kelas 2 SMP” (Informan 2)
”Saat ini saya tidak lagi membaca buku tetapi mendapat informasi dari teman” (Informan 1)
”biasanya cerita mengenai cara berciuman dan tentang alat vital” (Informan 2).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam penelitian ini yang menjadi unit analisis adalah nelayan yang memiliki sampan dayung, perahu motor sampai kapal motor yang tersebar di di pantai Banyu biru desa banyusangka kecamatan Tanjung Bumi.Karakteristik responden yang di bahas dalam penelitian ini meliputi karakter sosial ekonomi masyarakat nelayan di Desa Banyusangka yang dijadikan sebagai informan yaitu Kepala Desa,Ketua Nelayan dan nelayan-nelayan lainnya yang memberikan keterangan melalui koisioner yang telah disebar oleh peneliti.Sedangkan untuk wawancara yang pertama-tama digunakan untuk menanyakan kondisi sosial ekonomi nelayan di Desa Banyusangka usia/umur. Berdasar wawancara dan diperkuat oleh hasil kuisioner yang telah peneliti sebar maka diadapatkan keterangan ada sebanyak 10 % nelayan yang berusia dibawah 24 tahun dan 15 % berusia diatas 60 tahun. Rendahnya nelayan yang berusia tua menunjukkan semakin besarnya usia produktif yang bekerja sebagai nelayan. Usia produktif antara 25 – 59 tahun sebesar 75 %.

 

Tabel 4.1. Kondisi Usia Nelayan di Desa Banyusangka.

Usia Nelayan( Tahun)

Jumlah

Persen (%)

15 – 24

2

10

25 – 34

        5

25

35 – 44

8

40

45 – 59

2

10

Lebih dari 59 tahun

3

15

Total

20

100

 

 

 

 

                              Sumber : Kuisioner, diolah, 2011

               

 

 

Selanjutnya untuk status kepemilikan perahu, perahu/kapal motor di kawasan nelayan Desa Banyusangka.hal ini sesuai dengan rumusan masalah yaitu berkaitan dengan penagruh modal terhadap pendapatan nelayan. Berdasar koisioner yang telah disebar menunjukkan bahwa nelayan memiliki sendiri perahu, perahu motor dan kapal motor sebesar 55 % kemudian diikuti yang sewa sebesar 40% dan kredit sebesar 15 %.

Tabel 4.2. Status Kepemilikan Perahu/Kapal Motor Nelayan di Desa Banyusangka

Status Kepemilikan Perahu/Kapal Motor

Jumlah

Persen (%)

Milik Sendiri

11

55

Sewa

8

40

Kredit

3

15

Total

20

100

Sumber : Kuisioner, diolah, 2010